Jejak Langkah Pendidik Hukum: Sebuah Otobiografi Rahman Syamsuddin

Bagi saya, hukum bukan sekadar rangkaian pasal dan ayat dalam kitab undang-undang, melainkan instrumen hidup untuk menata masyarakat dan menegakkan keadilan. Prinsip ini yang membawa saya menapaki jalan panjang sebagai seorang akademisi, praktisi, dan pelayan masyarakat. Lahir di bawah naungan rasi bintang Sagitarius, jiwa saya selalu terpanggil untuk mencari kebenaran (The Truth Seeker) dan membidik masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.

Akar Keluarga dan Masa Kecil di Palopo

Saya lahir di Palopo, 7 Desember 1982. Jika hari ini ada gelar doktor yang bersanding dengan nama saya, itu sesungguhnya bukan milik saya seorang. Itu adalah buah dari keringat Ayah, Alm Drs. Syamsuddin Usman Opu Dg Parani, seorang abdi negara yang mengajarkan integritas tanpa banyak bicara. Dan di atas segalanya, itu adalah jawaban dari munajat-munajat panjang Ibu, Dra. Nursiah Abbas, di sepertiga malamnya. Tumbuh dalam keluarga pendidik dan birokrat menanamkan nilai disiplin dan cinta ilmu sejak dini. Sebagai Anak pertama dari 3 bersaudara Rahmawati Syamsuddin dan Rustam Syamsuddin memiliki tanggung jawab besar dan contoh serta teladan bagi saudara.

Saya masih ingat betul masa-masa sekolah di Palopo—dari SD 440 Salekoe hingga SMAN 1 Palopo. Di sana, nilai-nilai disiplin ditanamkan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan keteladanan. Saya belajar bahwa pendidikan bukan sekadar tiket untuk mencari kerja, tetapi jalan untuk memuliakan manusia. Pendidikan dasar hingga menengah saya habiskan di tanah kelahiran. Saya menamatkan SD di SD 440 Salekoe (1988), SMP Negeri 1 Palopo (1994), dan SMA Negeri 1 Palopo (1997). Di masa remaja inilah jiwa kepemimpinan saya mulai terasah ketika dipercaya menjadi Wakil Ketua 2 OSIS di SMAN 1 Palopo, sebuah pengalaman awal yang mengajarkan saya tentang tanggung jawab.

Dedikasi pada Ilmu Hukum: Sang Pembelajar

Kecintaan saya pada dunia hukum membawa saya merantau ke Makassar. Universitas Hasanuddin (UNHAS) menjadi kawah candradimuka bagi intelektualitas saya. Saya menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) Ilmu Hukum pada tahun 2005. Tak berhenti di situ, dahaga akan ilmu mendorong saya melanjutkan ke jenjang Magister (S2) Hukum Pidana yang saya selesaikan pada tahun 2007.

Sebagai bentuk totalitas kepakaran, saya menuntaskan pendidikan Doktoral (S3) di universitas yang sama pada tahun 2018 dengan spesialisasi Hukum Acara Pidana. Selama masa mahasiswa, saya aktif menempa diri dalam organisasi, termasuk menjabat sebagai Direktur Asean Law Students Association (ALSA) Lc UNHAS.

Perjalanan Karier dan Titik Balik

Januari 2009 menjadi titik mula pengabdian formal saya di dunia akademik dengan bergabung sebagai dosen di UIN Alauddin Makassar. Karier saya di "Kampus Peradaban" ini dibangun setahap demi setahap. Mulai dari Kepala Laboratorium Hukum (2013), Sekretaris Prodi (2015), Ketua Prodi Ilmu Hukum (2019), hingga diamanahkan menjadi Wakil Dekan bidang Akademik Fakultas Syariah dan Hukum pada tahun 2023 dengan jabatan fungsional Lektor. Selain itu mendorong terbentuk UKM Riset, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (RITMA) dan Lembaga Kajian Hukum Alauddin Law Study Center.

Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus. Sebagai seorang Sagitarius yang secara alamiah menjunjung tinggi kebebasan berpikir dan visi besar (big picture), saya menghadapi tantangan terbesar saat transisi dari akademisi murni menjadi pemangku kebijakan struktural. Saya sempat merasa terhimpit oleh birokrasi administratif yang kaku, yang seolah membatasi ruang gerak idealisme saya. Ada masa di mana saya merasa energi habis untuk rutinitas, bukan untuk pengembangan ilmu.

Di titik itulah saya menemukan esensi sejati kepemimpinan. Saya menyadari filosofi "Anak Panah dan Busur". Visi saya adalah anak panah yang ingin melesat jauh, namun birokrasi dan manajemen adalah busur yang menahannya sejenak untuk memberikan tenaga dorong. Momen ini mengubah cara pandang saya: Hukum dan jabatan bukan sekadar tentang kekuasaan, melainkan tentang wisdom (kebijaksanaan)—kemampuan menyeimbangkan aturan yang kaku dengan rasa kemanusiaan yang luwes.

Kontribusi Intelektual dan Pengabdian Profesi

Refleksi tersebut memacu saya untuk terus berkarya. Menulis adalah cara saya bekerja untuk keabadian. Beberapa buku telah saya lahirkan, antara lain Pengantar Ilmu Hukum (2013), Merajut Hukum di Indonesia (2013), Pengantar Hukum Indonesia (2019), serta karya spesifik Delik-Delik di dalam KUHP (2024) dan Delik-Delik di luar KUHP (2025).

Di ranah profesi, saya aktif menjabat sebagai Ketua Majelis Pengawas Notaris Daerah Takalar (2021-2024) dan berlanjut sebagai Wakil Ketua (2024-2027). Saya juga pernah memimpin Asosiasi Penyelenggara Program Studi Ilmu Hukum (APPSIH) PTKIN se-Indonesia (2021-2023). Saat ini, saya juga mengelola Kantor Konsultan Hukum Perusahaan dan Bantuan Hukum Literasi Hukum Indonesia sebagai Direktur.

Nilai, Harapan, dan Keluarga

Prinsip hidup saya sederhana namun tegas: Veritas et Justitia (Kebenaran dan Keadilan). Sebagai dosen, saya percaya bahwa kebebasan terbesar adalah kemampuan untuk berpikir benar dan bertindak adil. Sifat Sagitarius yang gemar berpetualang dan bersosialisasi saya salurkan melalui aktivitas organisasi dan diskusi lintas disiplin untuk terus memperluas cakrawala.

Menatap masa depan, layaknya pemanah yang membidik sasaran baru, saya memiliki target besar: mencapai jenjang tertinggi akademik sebagai Guru Besar (Profesor) di UIN Alauddin Makassar, serta menjadikan lembaga Literasi Hukum Indonesia sebagai mercusuar bantuan hukum bagi masyarakat luas.

Pada akhirnya, ketika semua jabatan dilepas dan lampu ruang kerja dipadamkan, saya kembali menjadi seorang suami dan ayah. Kepada istriku tercinta, Syahriani S.Pd., M.Pd., kaulah "profesor" kesabaran yang sesungguhnya dalam hidup saya. Dan untuk keempat buah hatiku—Farid, Fakhira, Fathan, dan Febrina—kalian adalah rem sekaligus gas dalam hidup Ayah.

Terkadang, saat menatap wajah mereka yang terlelap setelah seharian saya tinggal bekerja, ada rasa haru yang menyelinap. Maafkan Ayah jika waktu bermain kalian sering tercuri oleh tumpukan berkas dan naskah. Namun ketahuilah, Nak, semua kerja keras ini Ayah lakukan agar kelak kalian bisa hidup di negeri yang hukumnya lebih adil, dan peradabannya lebih mulia.

Perjalanan ini belum usai. Dengan bekal ilmu dan iman, saya bertekad untuk terus melesatkan anak panah kebaikan bagi kemajuan hukum di Indonesia.

0 Komentar